LOGO STFALFARABI

Filsafat Islam: Tiruan Yunani atau Pemikiran Mandiri?

Oleh: Adityawarman – STF Al-Farabi Kepanjen

Filsafat—yang secara historis lahir dari rahim Yunani—seakan menjadi ibu dari segala disiplin keilmuan dan pemikiran filsafat yang pernah kita ketahui, termasuk di dalamnya adalah Filsafat Islam. Kendati demikian, sampai saat ini agaknya masih banyak yang meragukan ke-otentik- an filsafat Islam sebagai produk dari khazanah pemikiran Islam. Diantara yang meragukannya adalah para orientalis seperti Tennemann (1761 – 1819 M) dan Ernest Renan (1823 – 1892 M), misalnya, yang secara skeptis menuduh bahwa filsafat Islam adalah buah pikir para filosof Yunani yang di-alih- bahasa-kan ke dalam bahasa Arab atau sederhananya adalah filsafat Yunani yang di-islamkan.

Baca Juga : Urgensi Filsafat dalam Kehidupan Sehari-hari

Lebih jauh, selain tuduhan yang meragukan filsafat Islam sebagai sebuah pemikiran yang notabene baru, terdapat tuduhan lain yang bernada sinis dan skeptis, diantara tuduhan tersebut adalah: (1) Menganggap keberadaan kitab suci al-Qur’an menegasikan kemerdekaan berpikir, (2) Meragukan karakter bangsa Arab sebagai bangsa yang tidak mungkin berfilsafat. (3) Beranggapan bahwa ras bangsa Arab yakni ras Semit (al-Samy) memiliki daya nalar yang rendah jika dibandingkan dengan bangsa Yunani dari ras Aria (al-Ary), oleh karenanya, mereka tidak mampu berfilsafat, atau (bahkan) menciptakan pemikiran fisafat sendiri.

Tulisan ini akan mencoba mencermati tuduhan-tuduhan tersebut untuk kemudian secara ringkas (namun rinci) menjelaskan mengapa filsafat Islam bukanlah sebagaimana yang telah dituduhkan oleh para orientalis dulu hingga kini, serta mengapa pada gilirannya filsafat Islam dapat memberikan nuansa baru pemikiran rasional-filosofis yang memiliki corak atau ciri khas tersendiri yang tentu berbeda dengan pemikiran-pemikiran filsafat yang datang sebelum Islam.

Menggugat Para Orientalis

Seperti yang telah dituduhkan sebelumnya, bahwa filsafat Islam hanyalah buah hasil copy-paste dari filsafat Yunani. Oleh karenanya kemudian tidak dianggap sebagai sebuah pemikiran yang (bahkan) baru. Dari satu point tuduhan tersebut—dan jika boleh menyerang balik—alih-alih meletakkan filsafat Islam pada altar skeptis (keraguan), tuduhan tersebut justru secara tak langsung berangkat dari nalar yang skeptis—dan tak berdasar—pula. Apa sebab?.

Pertama, harus lebih dulu kita pahami bahwa sebuah ide atau gagasan yang datang sbelumnya secara lumrah dapat pula dibahas bahkan diperbarui oleh gagasan yang datang belakangan, singkatnya, tidak ada gagasan yang terlepas dari pengaruh gagasan atau ide sebelumnya. Filsafat Islam yang—notabene—lahir dari rahim filsafat Yunani tentu akan tetap mengakuinya sebagi “ibu” yang melahirkanya. Oleh karenanya—dengan sedikit terkesan metaforis—filsafat Islam tidak kemudian mendurhakai filsafat Yunani—sebagai ibunya—dan enggan menganggap sebuah ilmu (pemikiran) dapat lahir dan berdiri dengan sendirinya.

Kedua, filsafat sebagai payung ilmu pengetahuan adalah proyek mulia manusia dari satu generasi ke generasi lainnya secara bergiliran, yang berarti filsafat tidak bisa dibangun oleh satu

bangsa atau perseorangan saja. Seperti misalnya, Plato (427 – 347 SM), memiliki pemikirian tersendiri yang sebelumnya tidak pernah dikatakan oleh gurunya, Sokrates (470 – 399 SM). Pun demikian dalam khazanah filsafat Islam, tidak sedikit dari pemikiran filsafat Al-Kindi (801 – 873 M)—misalnya—yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani namun memiliki pemikiran sendiri yang (sama sekali) baru.

Ketiga, sebuah ide atau pemikiran menurut Karl A. Steenbrink adalah hasil dari proses dialektika seseorang dengan kondisi sosial lingkungannya, termasuk di dalamnya; bahasa, budaya, dan keyakinan teologisnya. Maka dalam hal ini, ke-eksistensi-an filsafat Islam sebagai sebuah konsep berpikir rasional-filosofis tidak bisa disamakan dengan pemikiran filsafat Yunani yang tentu keduanya berkembang dalam kondisi sosial yang berlainan, menyamakan keduanya secara tidak langsung akan menafikan salah satunya, menafikan salah satunya akan memberikan kesan keangkuhan berpikir yang tentu jauh dari makna kebijaksanaan yang mana menjadi point utama dalam berfilsafat.

Baca Juga : Pentingnya Mengetahui Logical Fallacy Dalam Kehidupan Sehari Hari

Berangkat dari ketiga point di atas, maka kemudian—jika boleh berkesimpulan sekaligus menggugat—filsafat ada bukanlah diperuntukkan hanya untuk satu penggagas saja, yakni Yunani. Menerjemahkannya kedalam bahasa lain (dalam hal ini Arab) bukan berarti serta merta menduplikasinya, melainkan sebuah proyek mulia yang mencoba untuk menghilangan barrier atau penghalang bernama “bahasa” agar kemudian dapat dikenal oleh manusia dalam semua bangsa dan kehidupannya, dan tidak mustahil dapat menciptakan sebuah pemikiran baru pada gilirannya.

Berfilsafat : Sebuah Keniscayaan dalam Islam

Pada awal mulanya, seluruh ilmu di zaman Nabi Muhammad semasa hidupnya di- transmisikan melalui hafalan dan periwayatan, oleh karenanya pada saat itu ilmu masih bersifat amaliyyah atau praktis (terapan), pencarian kebenaran secara keseluruhan akan disandarkan pada Nabi Saw. Tentu hal ini dilakukan tidak lain agar kebenaran-kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu tidak iltibas atau bercampur dengan kebenaran-kebenaran semu yang diperoleh oleh manusia dari proses refleksi logika kodratinya (kemampuan berpikir alamiah).

Transmisi ilmu melalui hafalan dan periwayatan seperti itu terus berlangsung hingga zaman sahabat dan (kemudian) tabi’in. Sampai pada suatu momen—yang juga tertuang dalam hadis— dimana sahabat Mu’adz bin Jabal diutus oleh nabi menuju negeri Yaman, dimana saat itu Nabi Muhammad Saw. bertanya tentang apa yang akan Mu’adz lakukan jika ia tidak menemukan ketentuan hukum dalam al-Qur’an dan hadis saat hendak memutuskan hukum suatu perkara, sementara Nabi Saw. tidak ada di sisinya. Kemudian Mu’adz menjawab bahwa ia akan mempergunakan akalnya, dan kemudian tindakan tersebut di-amin-kan oleh Nabi Saw.

Praktik mempergunakan akal dalam penggalian hukum (istinbath) semacam yang dilakukan oleh Mu’adz pada gilirannya menjadi sebuah tradisi yang mengakar dalam perkembangan epistemologi Islam, secara berkelanjutan dilestarikan oleh generasi setelah Nabi, yakni Khulafaur Rasyidin hingga puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah yang pada gilirannya menelurkan para filsuf Islam seperti Al-Kindi—misalnya—yang (bahkan) menciptakan pemikiran filsafatnya sendiri.

Maka kemudian, ilmu dalam kesejarahan Islam yang mula-mula hanya bersifat ‘amaliyyah(praktis-terapan) berkembang menjadi ilmu yang juga nadzoriyyah (rasional-filosofis) atau teoritis.

Tentu hal ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan sebuah keniscayaan yang perlahan diukir oleh peradaban Islam dengan kitab sucinya yang sangat berjasa dalam memobilisasi akal manusia. Usaha penetapan kebenaran hukum dengan menggunakan akal (ijtihad) yang dilakukan oleh sahabat Mua’dz bin Jabbal yang kemudian di-amin-kan oleh Nabi cukup menjadikan bukti bahwa pemikiran rasional-filosofis dalam Islam sudah lebih dulu mapan bahkan sebelum datangnya filsafat Yunani ke tanah Arab.

Berpikir Rasional : Perintah Al-Qur’an di Banyak Ayat

Selain menganggap bahwa filsafat Islam hanyalah duplikat dari Yunani belaka, para orientalis juga menuding bahwa keberadaan Al-Qur’an menegasikan kebebasan berpikir, sehingga umat Islam tidak mungkin berfilsafat. Memang pada dasarnya Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup umat Islam untuk mengarungi kehidupan dengan segala persoalannya, namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat di Al-Qur’an dalam berbagai term menganjurkan dan mendorong pemeluknya untuk banyak berpikir secara mendalam dalam segala hal-ihwal. Oleh karenanya, disamping bersifat rasional, filsafat Islam juga bersifat religius, namun tidak mengabaikan persoalan- persoalan filsafatnya. Sebab, filsafat Islam lahir dari dorongan-dorongan berpikir yang bersumber dari Al-Quran. Artinya, dengan tanpa Al-Qur’an filsafat Islam dalam arti sebenarnya tidak akan pernah ada.

Setidaknya, terdapat 70-an ayat di Al-Qur’an yang bernada perintah agar manusia banyak berpikir dan menghayati segala hal secara mendalam. Ungkapan-ungkapan di Al-Qur’an seperti afala ta’qilun, afala ta’lamun—yang juga bermakna komunal atau jamak—seringkali diulang-ulang untuk menunjukkan betapa pentingnya aktifitas berpikir bagi umat manusia, terlebih umat Islam. Apabila kita mencermati lebih jauh ungkapan tentang berpikir di Al-Qur’an, kita akan menemukan banyak term seperti نظـر ,الالبابو اولو ,تـعقلون ,فـكر,dan احلام. Kata “فكر” dari berbagi term diulang delapan belas kali dalam Al-Qur’an, “تعقلون” dari berbagai bentuknya diulang empat puluh sembilan kali, “نظر” dua puluh sembilan kali, dan “احلام” sebanyak dua kali.

Disamping memerintahkan untuk berpikir secara mendalam, Al-Qur’an juga mengapresiasi orang-orang yang mempergunakan akalnya, hal itu dituliskan dalam term seperti الالباب اولو, اولو الابصار, النهى اولو dan علماء. Kata “الالباب اولو” yang berarti “orang-orang yang mempunyai pikiran” terulang sebanyak enam belas kali, “الابصار اولو” yang berarti “orang-orang yang mempunyai pandangan” sebanyak empat kali dan dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 145 ayat dalam 57 surat, “النهى اولو” yang mempunyai arti “orang-orang bijaksana” diualang di dua ayat, demikian juga kata “علماء” yang berarti “orang yang memiliki ilmu” sebanyak dua kali. Terakhir, kata ayat (آية) sendiri erat hubungannya dengan makna aktifitas berpikir yang memiliki arti asal sebagai “tanda”.

Perintah untuk berpikir agaknya tidak hanya tertuang dalam ayat yang matlu atau teks saja, terdapat juga ayat yang ghairu matlu atau dalam term populernya “ayat kauniyah”. Ayat-ayat kauniyah yang menggambarkan kejadian alam semesta seisinya secara tak langsung juga menuntut manusia untuk memikirkan dan merenungkannya, yang pada gilirannya juga mengajak kita mempertanyakan hakikat keberadaan alam tersebut, tentang bagaimana ia ada dan darimana asalnya.

Maka jelas sudah jasa Al-Quran yang dalam berbagai ayat-ayatnya menganjurkan pemeluknya agar banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Akal dalam Islam ditempatkan pada posisi yang

tinggi sehingga aktifitas berpikir dan menggunakan akal adalah ajaran yang jelas dalam Islam. Jika kemudian berfilsafat diartikan sebagai aktifitas berpikir sedalam-dalamnya, maka tentu arti tersebut sejalan dengan makna berpikir yang terkandung dalam Al-Qur’an , dan secara elegan, menafikan tuduhan-tuduhan para orientalis yang seolah-olah mengatakan Al-Qur’an sebagai penghambat laju akal umat Islam.

Berfilsafat: Mengetuk Pintu Kebijaksanaan

Setelah memperoleh pemahaman singkat mengenai polemik dan problema mengenai filsafat Islam, mari kita sejenak berpikir dan merenung, tentang apakah filsafat atau—lebih tepatnya— “berfilsafat” itu penting dalam kehidupan seorang muslim? Mengapa para filsuf terutama filsuf Islam repot-repot memikirkan apa yang sudah sebagaimana mestinya? Apa urgensinya? Bukankah memang alam semesta sedari awal memang begitu adanya? Mengapa mencoba memikirkan hal-hal yang memang sudah begitu adanya?

Sabdawan yang budiman, itulah poin utamanya, berfilsafat dapat menjadikan kita tidak menjadi seperti kebanyakan orang yang beranggapan bahwa apa yang terjadi memang sudah semestinya begitu. Menjadi pribadi yang tidak seperti kebanyak orang adalah suatu hal yang langka di tengah hiruk pikuk duniawi yang membuat kita lupa akan segala hal, bahkan lupa akan diri dan muasal kita sendiri. Apa sebab?

Berpikir secara mendalam atau berfilsafat—dalam Islam—bukan berarti memikirkan apapun yang agaknya bisa dipikirkan. Berfilsafat dalam Islam akan mengajak kita memiliki untuk meragukan apa-apa yang perlu diragukan. Anda tidak perlu takut menjadi ateis dengan berfilsafat, justru sebagai seorang yang beragama, dengan menggunakan akal sesuai kadar kemampuanyya akan mengantarkan kita sampai pada kesimpulan dari mana asal-muasal kita dan alam yang fana ini hingga sampai pada kesimpulan adanya Allah Sang Khalik, Pencipta hidup dan kehidupannya, yang mana pada gilirannya akan membuat Anda semakin yakin atas apa yang Anda yakini selama ini.

Jika merapalkan kalimat-kalimat tayyibah adalah berdzikir alias mengingat Sang Pencipta dan bernilai ibadah, maka tentu berfilsafat adalah juga demikian. Dengan begitu, sebagai seorang muslim, Anda tak perlu takut lagi mengeluarkan seluruh potensi akal Anda, sebab agaknya filsafat adalah satu-satunya “barang mewah” di dunia ini yang sesiapapun boleh memiliki dan (kemudian) menggunakannya. Tidak untuk satu bangsa atau ras saja, filsafat hadir untuk siapapun yang rindu akan kebijaksanaan dan kebenaran. Selamat datang di pintu gerbang kebijaksanaan!.

Sumber:

Zar, Sirajuddin. “Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya“, Jakarta: Rajawali Pers (2004). Sattar, Abdullah. “Filsafat Islam: Antara duplikasi dan kreasi.” Ulumuna 14.1 (2010): 1-20. Discourse, LSF. “Filsafat Bagi Siapa Pun” Malang: Discourse Book (2022)

Malkan, Malkan. “Berpikir dalam Perspektif Alquran.” HUNAFA: Jurnal Studia Islamika 4.4 (2007): 353-372

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman