Oleh : M Chadil Wijdan
Pendahuluan
Sebagai disiplin ilmu, filsafat menitik-beratkan pada pertanyaan mendasar perihal eksistensi, pengetahuan, nilai, alasan, dan bahasa (Russell, 2010, Halaman 25-30). Meskipun banyak yang mengira bahwa filsafat sebagai sesuatu yang jauh dari realitas sehari-hari artinya melangit, sejatinya filsafat memiliki implikasi praktis dalam kehidupan manusia, down to earth. Misalnya, pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa tujuan hidup?” atau “Bagaimana saya harus bertindak dalam situasi tertentu?” adalah pertanyaan filosofis yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Filsafat sebagai Alat Berpikir Kritis
Salah satu kontribusi utama filsafat adalah melatih kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini penting untuk menganalisis informasi, membedakan antara fakta dan opini, serta membuat keputusan yang rasional. Studi yang dilakukan oleh Facione (2011) menunjukkan bahwa pelatihan berpikir kritis yang berbasis filsafat dapat meningkatkan kemampuan analisis seseorang hingga 30% dalam kurun waktu enam bulan.
Baca Juga : Pentingnya Mengetahui Logical Fallacy Dalam Kehidupan Sehari Hari
Di era informasi seperti sekarang, di mana hoax berserakan di mana-mana dan informasi menyesatkan kian menjamur, kemampuan berpikir kritis yang berbasis filsafat sangat diperlukan demi terbebas dari hal tersebut. Oleh karenanya, dengan memahami konsep-konsep dasar logika dan argumentasi, seseorang dapat menilai validitas sebuah klaim dan menghindari manipulasi informasi.
Namun perlu disadari dan diterima bahwa pendidikan di Indonesia belum memaksimalkan keterampilan ini. Kasus ini pernah diteliti oleh Muhlisin et al (2016), ketika siswa diberikan permasalahan tentang penanganan sampah, argumen ia tidak sesuai dengan akal, kurang menyampaikan penilaian suatu problem berbasis fakta yang terjadi. Ini merupakan sesuatu yang sangat ironi lagi miris.
Filsafat dalam Etika dan Moralitas
Filsafat juga membantu individu merenung-insyafi prinsip-prinsip moral. Misalnya, teori-teori etika seperti etika kebajikan memberikan bingkai kerja untuk menilai apakah tindakan tertentu benar atau salah. Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan etika sangat urgen dalam pengambilan keputusan, baik dalam konteks personal maupun kolektif.
Sebagai contoh, seorang santri mendapati sebuah dilema antara berbakti kepada orang tua di mana sedang sakit di rumah sementara ia mempunyai kewajiban di pondok pesantren untuk belajar dan mengabdi kepada kiainya. Dengan menggunakan pendekatan etika filosofis, santri tersebut dapat mempertimbangkan berbagai perspektif untuk mencapai keputusan yang adil dan objektif, di satu sisi ia tetap berbakti pada orang tua dan di sisi lain ia pun bisa mengabdi pada sang kiai.
Filsafat dan Pemaknaan Hidup
Salah satu jasa filsafat yang paling penting adalah membantu individu menemukan makna dan tujuan hidup. Victor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning (2006) pada halaman 99-101, dia menekankan bahwa pencarian makna adalah kebutuhan fundamental manusia. Filsafat eksistensialisme, misalnya, mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menciptakan makna hidupnya sendiri melalui tindakan dan pilihan.
Dalam praktiknya, refleksi filosofis dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit seperti kehilangan seseorang atau yang dianggap berharga, kegagalan dalam menghadapi persoalan, atau ketidakpastian dalam hidupnya. Dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan mendalam, seseorang dapat menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup dengan lebih optimis.
Data Empiris tentang Manfaat Filsafat
Berbagai penelitian menunjukkan manfaat nyata dari filsafat. Sebuah studi oleh The Philosophy Foundation (2015) menemukan bahwa siswa yang mempelajari filsafat menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan literasi, numerasi, dan empati. Selain itu, survei yang dilakukan oleh Pew Research Center (2019) menunjukkan bahwa 68% individu yang mempraktikkan refleksi filosofis merasa lebih puas dengan kehidupan mereka dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Menurut data PISA tahun 2019, Literasi di Indonesia menempati posisi terendah dari 74 negara yang lain. Bahkan lebih rendah dari tetangga kita, Malaysia. Untuk bisa meningkatkannya tentu mesti di-backup dengan filsafat.
Kesimpulan
Filsafat tidak hanya sebuah disiplin akademik, tetapi juga alat praktis yang dapat membantu seorang manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika, dan pencarian makna hidup, filsafat dapat menjadi rambu-rambu dalam menghadapi “perjalanan” kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengapresiasi dan mempraktikkan filsafat dalam kehidupan mereka.
Referensi
Facione, P. A. (2011). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. Insight Assessment.
Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
Pew Research Center. (2019). The Benefits of Reflective Thinking.
Russell, B. (2010). The Problems of Philosophy. Oxford University Press.
The Philosophy Foundation. (2015). The Impact of Philosophy in Education.





