LOGO STFALFARABI

Pentingnya Mengetahui Logical Fallacy Dalam Kehidupan Sehari Hari

Oleh M Hasbi Ribhi DS

Logical fallacy merupakan kesalahan berpikir dalam berlogika atau bisa disebut sebagai cacat dalam proses menalar. Hal ini terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan dalam pemikirannya. Memang hal ini terlihat sederhana, namun kesalahan berpikir sering terjadi tanpa kita sadari, yang mana itu dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dibenturkan dengan berbagai pilihan yang mengharuskan kita untuk berpikir terlebih dahulu agar mendapatkan keputusan yang bijak. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi para pemikir mengetahui logical fallacy ini, untuk mendeteksi adanya kekeliruan dalam sebuah argumen dan berujung mendapatkan kesimpulan yang valid.

Baca Juga : Filosofi Santri

Beribu-ribu tahun lalu filsuf dari Yunani bernama Aristoteles mulai mempelajari dan mengkategorikan kekeliruan yang biasanya ditemui dalam penalaran. Sejak saat itu, orang-orang mendapati bahwa cabang logika ini paling menarik dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Nah, di pembahasan ini kita akan lebih mengulas kepada fallacy yang bersifat praktis dan informal. Teori ini sering digunakan dalam diskusi, debat, pendidikan, politik, dan media.

1. Pikiran Yang Ingin Tahu

    Poin terpenting dalam hal ini adalah berpikir dan rasa ingin tahu, sebelum mengetahui apa itu penalaran yang buruk, alangkah baiknya kita membahas apa itu penalaran yang baik terlebih dahulu, karena kebanyakan orang enggan untuk menggunakan pikirannya. Setiap orang ingin mencari kesenangan dan beberapa di antaranya lebih memilih untuk bekerja.

    Contoh:

    Supri: “Eh, Suk, gue ada pertanyaan serius, nih. Lu pernah nggak kepikiran, kalau hidup ini sebenernya kayak simulasi game aja?”

    Sukadi: “Waduh,berat amatsih, Pri.Simulasi? Hmm…kalau iya,berartigue pilih jadi karakter yang tiap hari makan mie ayam tanpa takut kolesterol!”

    Supri: “Serius lah, maksud gue,lu pernah ga ngerasa kaya ada kejanggalan dalamhidup lu? Kayak semua itu udah diatur gitu?”

    Sukadi:“Diatur sih, iya. Kayak tadi pagi gue mau bikin kopi, ternyata abis. Itu pasti semesta yang ngatur biar gue lebih banyak minum air putih.”

    Supri:“Ini bukan soal kopi atau air putih Suk. Ini soal kenapa kita ada disini. Lunggak penasaran gitu?”

    Sukadi:“Penasaran sih,tapi gue lebih penasaran kenapa abang tahu bulat nggak keliling lagi sore-sore, padahal gue lagi ngidam tahu bulat, Pri.”

    Supri: “Aduh, lo tuh malah ngelawak. Coba deh lu mikir sedikit, gimana kalau semua ini nggaknyata?”

    Sukadi:“Kalau nggak nyata, berarti utang gue sama si Udin juga nggak nyata, kan? Wah, aman dong gue!”

    Supri: “Ya ampun Suk gue nyerah deh. Lu emang nggak mau mikir, ya?”

    Sukadi: “Bukan nggak mau, Pri. Gue cuma milih hidup santai. Hidup udah ribet, ngapain ditambah mikirin hal yang ga ada.”

    Supri:“Auu ahh serah lu,Suk, kesel banget gue!”

    Sukadi:“Hahaha! makanya jangan kebanyakan mikir,ntar pala lo berasap. Mending login dah!”

    Di sini Supri mencoba untuk membuat Sukadi sedikit berpikir, namun ia lebih memilih untuk menghindari dan itulah yang sebenarnya diinginkan Sukadi. Menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dan bermain tanpa berpikir apa tujuan dari yang ia lakukan.

    2. Jenis-jenis Fallacy yang sering terjadi

    • Red Herring

    Red Herring adalah salah satu kesalahan berpikir yang mana lawan bicara menjawab dengan sesuatu jawaban yang tidak relevan untuk menghindari pertanyaan alias tidak menjawab sama sekali. Seakan-akan dia menganggap bahwa kita berpikir sesuatu yang diangkat itu membuktikan bahwa dia benar. Hal ini sering terjadi dalam sesi tanya jawab, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

    Meskipun secara fakta itu benar, namun tidak ada relasi antara poin dari pertanyaan dan jawaban. Bahkan red herring ini sering digunakan dalam dunia per-film-an untuk membentuk sebuah plot twist.

    Dulu pelatih anjing biasa mengunakan red herring “ikan busuk” untuk melatih penciuman anjing pelacak. Pelatih anjing tersebut akan membuat jalur dengan aroma rakun, dengan sengaja membuat jalur itu panjang dan lama. Lalu dipertengahan perjalanan, pelatih tersebut akan menarik red herring kedalam jalur sebagai aroma pengganggu, tapi dengan arah yang berbeda.

    Pelatih itu akan melatih anjing untuk tetap di dalam jalur rakun dan mengabaikan red herring itu. Nah,jadi red herring adalah jejak pengganggu. Dalam konteks kita, red herring terjadi saat seseorang mengangkat topik yang tidak relevan, yang kemudian akan mengalihkan kita dari pertanyaan sebenarnya.

    • Ad Hominem

    Ad hominem berasal dari bahasa latin argumentum ad hominem yang artinya “terhadap orangnya”. Serangan ad hominem sering terjadi dalam perdebatan, khususnya perdebatan politis. Biasanya, pendebat (Sukadi) akan membawa isu atau topik negatif yang ada pada lawan (Supri), dengan tujuan untuk memprovokasi para audien, maka audien akan memiliki pandangan buruk terhadap argumen Supri. Pendeknya, ad hominem adalah menyerang secara personal bukan pada argumennya.

    Hal itu meliputi gender, kata, tulisan, suku, ras , agama, warna kulit, warna rambut, dan masih banyak bentuk penghujatan lainnya.

    • Ekuivokasi

    Ekuivokasi adalah kesalahan berpikir yang sedikit bermain-main dengan kata, ketikakata itu memiliki makna ganda atau lebih yang terkadang tendensi kepada penggunaannya atau ekspresi tertentu dalam sebuah argumen.

    Hal ini terjadi saat seseorang berargumen dan mengubah makna “kata” dalam pertengahan argumen tersebut,seperti kata dingin disandingkan dengan es krim ,kemudian pada premis kedua mengganti kata dingin yang disandingkan kepada sifat seseorang atau penampilannya.

    • Hasty Generalization

    Kesalahan berpikir ini terjadi ketika seseorang terburu-buru menilai atau menggeneralisir sesuatu berdasarkan sampel yang sedikit dan memukul ratakannya. Seperti yang sering saya jumpai di laman internet, tepatnya dalam keluh kesah para peratap cinta.

    Kebanyakan dari mereka wanita, yang mengalami putus cinta entah karena perselingkuhan atau ditikung teman sendiri, dan kemudian sebagian dari mereka menarik kesimpulan dari satu kejadian tersebut bahwa semua laki-laki sama saja.

    Kesimpulan

    Pentingnya mengetahui kesalahan berpikir ini adalah untuk mengindentifikasi mana argumen atau jawaban yang benar dan salah dalam keseharian kita, bahkan jika ingin digunakan untuk menghindari pertanyaan sakral, seperti “kapannikah?”misalnya hehe.

    Artikel Lainnya

    Download App STF Al-Farabi

    Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

    Download App STF Al-Farabi

    Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman