LOGO STFALFARABI

Upaya Pembebasan dari Terbelenggunya Nalar Arab

Oleh: Hasbi (Ribbay)

Dunia Arab acap kali terlihat gagap dalam menghadapi modernitas. Di satu sisi, mereka ingin maju mengikuti zaman, namun di sisi lain, terjebak dalam perdebatan panjang tentang warisan masa lalu yang tak kunjung usai. Apa akar masalahnya? Menurut pemikir asal Maroko, Mohammed Abed Al-Jabiri, masalahnya bukan terletak pada agama atau budaya secara sederhana, melainkan pada “nalar” atau cara berpikir yang telah menubuh dalam kebudayaan Arab. Cara berpikir ini, menurutnya, sudah menjadi kaku dan justru membelenggu. Karena itulah, Al-Jabiri meluncurkan proyek intelektual besarnya: membongkar cara berpikir tradisional Arab melalui kritik yang mendalam, untuk kemudian merevitalisasi fondasi baru yang lebih logis dan inklusif.

Baca Juga : Benarkah, Ulama Indonesia yang Menjadikan Umat Islam Terbelakang?

Al-Jabiri memulai diagnosanya dengan membedah tiga “software” atau sistem pengetahuan yang menurutnya menjadi pengerak utama pikiran kolektif Arab. Pertama, ada software Bayani, yaitu cara berpikir yang berpusat pada teks. Segala kebenaran dicari melalui penafsiran mendalam terhadap teks suci seperti Al-Qur’an dan Hadis. Cara kerjanya deduktif dan reproduktif: teks adalah segalanya. Kemudian, software Irfani, yaitu cara berpikir yang mengandalkan intuisi, ilham batin, dan pengalaman spiritual. Kebenaran diraih bukan lewat logika, melainkan melalui perasaan penyatuan dengan Yang Ilahi. Software ini banyak dipakai dalam tradisi tasawuf. Dan yang terakhir, software Burhani, yaitu cara berpikir yang mengedepankan akal, bukti, dan logika.

Nah, di sinilah letak masalah utama menurut Al-Jabiri. Dalam sejarah perjalanan pemikiran Arab, terjadi aliansi tak sehat antara software Bayani dan Irfani. Aliansi ini bersatu dan berhasil meminggirkan software Burhani. Akibatnya, cara berpikir yang cenderung eksklusif dan otoriter. Kebenaran selalu dirujuk ke “apa kata ulama masa lalu”, bukan pada analisis rasional terhadap fakta dan realitas yang ada di depan mata. Akal kritis dicurigai, dan liar terdefinisi. Pikiran terjebak dalam nostalgia masa kejayaan yang berkonsekuensi logis menghambat proyek renaisans
Ia tidak bermaksud untuk mentiadakan tradisi sama sekali, melainkan melakukan pembacaan ulang yang kritis. Langkah pertamanya adalah memisahkan aliansi Bayani-Irfani. Teks agama harus dibaca secara kritis dan kontekstual, bukan disakaralkan atau dijadikan alat legitimasi buta.

Pengalaman spiritual sah-sah saja sebagai keyakinan pribadi, tapi alangkah baiknya bukan dijadikan dasar untuk membangun sistem pengetahuan atau politik publik. Kemudian, langkah selanjutnya adalah menghidupkan dan memutakhirkan software Burhani. Tradisi rasionalisme Islam, khususnya warisan Ibnu Rusyd, harus diangkat kembali dan diperkaya dengan pencapaian filsafat kritis dan metode ilmiah modern. Akal harus dikembalikan sebagai hakim utama dalam memahami dunia. Yang paling radikal, Al-Jabiri membalik cara pandang umum: jangan membaca masa kini dengan kacamata masa lalu, tapi bacalah masa lalu dengan kacamata masa kini. Artinya, warisan tradisi harus dipandang sebagai produk sejarah yang bisa dikritisi, bukan sebagai kebenaran absolut yang wajib ditiru. Tujuan akhirnya jelas: mengubah nalar dari yang hanya bisa meniru dan mengulang, menjadi nalar yang mampu mencipta sehingga menghasilkan pengetahuan baru untuk menjawab masalah masa kini.

Lihat Juga : Pentingnya Mengetahui Logical Fallacy Dalam Kehidupan Sehari Hari

Gagasan Al-Jabiri seperti pisau bedah yang tajam untuk memahami mengapa fundamentalisme bisa kuat, mengapa sains tertinggal, atau mengapa demokrasi sulit tumbuh di banyak negara Arab. Ia menawarkan jalan modernisasi yang otentik, bukan sekadar menjadi plagiat Barat, tetapi dengan menggali akar rasionalitas dari dalam tradisinya sendiri. Tentu, sebagaimana manusia secara umum idenya tak luput dari kritik. Beberapa golongan menilai analisisnya terlalu menyederhanakan sejarah. Gagasannya yang filosofis dan “berat” juga dinilai sulit untuk sampai kepada masyarakat awam.

Pada akhirnya, mimpi Al-Jabiri adalah mimpi tentang pembebasan. Ia mengatakan bahwa sebelum ada reformasi politik, ekonomi atau sosial, yang harus didahulukan adalah merevitalisasi cara berpikir. Selama pikiran masih terjebak dalam pola badawah yang cenderung tertutup, segala bentuk perubahan lain akan bersifat dangkal dan sementara. Maka, adalah undangan bagi kita untuk menghasrati pola pikir kritis dan merefleksikan, sebuah “detoks” intelektual yang ambisius; Upaya untuk membersihkan cara berpikir dari pola-pola lama yang tidak kritis. Meskipun jalan yang ia tunjukkan terjal dan penuh debat, percikan pemikirannya belum padam hingga saat ini: bahwa keberanian untuk mengkritik warisan sendiri adalah langkah awal yang esensial untuk menyempurnakan jalan menuju proyek renaisans.

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman