Oleh: Pradita Afriyanto
Mula-mula ketika kita membahas tentang agama Budha pasti tidak akan lepas dengan sejarah ataupun ajaran yang di bawa sang Buddha sendiri. Pada kesempatan ini saya pribadi ingin memaparkan beberapa definisi,antara Agama dan Buddha, yang kemudian pertanyaan lanjutanApakah agama buddha itu benar agama atau hanya sebatas ajaran yang dibawa oleh Sang Buddha sehingga disebut sebagai agama? Bagaimanakah agama buddha ini bisa diterima di beberapa negara dan bahkan sampai ke indonesia? Apakah ada konsep tentang ketuhanan dalam Agama Buddhasendiri?
Jika agama budha mempunyai konsep ketuhanan, apakah ada juga konsep tentang wahyu dalam agama tersebut? Bagaimana juga agama budha mengatasi persoalan sosial pada masa itu, dalam artian apakah agama buddha menjunjung tinggi moralitas dan etika bagi sang budha dan pengikutnya?Mari kita selesaikan persoalan ini dengan beberapa referensi yang sayatemukan.
Baca Juga : Peradaban Ngecor
Sebenarnya istilah agama ini memiliki banyak perspektif, tetapi saya memilih yang paling jamak orang ketahui, secara istilah kata agama berasal dari bahasa sangsekerta terambil dari a yang artinya tidak dan gama artinya kacau jadi agama artinya tidak kacau. hal ini mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau.(ismail:10)
Istilah agama juga terdapat kemiripan dalam memaknaiMenurut Daniel C. Dennetdalam karyanya berjudulBreaking The Spellkemudian dialih bahasakan oleh ninus d. andarnuswari berjudulAgama Sebagai Fenomena Alam, agama merupakan suatu hal yang alami(natural) bukan suatu hal yang gaib(supranatural) yang mana agama merupakan fenomena manusiawi yang tersusun atas peristiwa, organisme, objek, struktur, pola dan semacamnya, juga mematuhi hukum fisika atau biologi sehingga tidak melibatkan keajaiban. (hal 25)secara sederhana agama adalah sistem sosial yang diperuntukan bagi manusia yang kemudian didalamnya tedapat nilai-nilai moral yang harus di patuhi.
Pembahasan selanjutnya yaitu tentang istilahBuddha sendiri, dan apa yang membedakan denganBudhisme, dan siapa yang berperan dalam kelahiran budha.Budha secara sederhana yaitu orang yang sudah tercerahkan melalui beberapa jalan yang harus dilewati bagi seorang budha dalam ajarannya, dalam sejarahnya tidak mungkin bisa dipisahkan tentang letak geografis, historis maupun antrologis sehingga bisa mengetahui pengaruh sang budha, agama ini terpengaruh agama sebelumnya yaitu agama hindu.Sedangkan budhisme adalah aliran yang dianut oleh pengikut sang budha dan juga ajaran yang bibawa sang budha.
Dalam sejarah, agama budha lebih dikenal bagi yang berperan aktif dalam penyebarannya, mungkin kalian pernah mendengar nama Sidartha Gautama, Agama Budha lahir dan berkembang diperkirakan pada abad ke-6 SM. agama ini dinisbahkan pada pendirinya, yakni Sidharta Gautama (563-483 SM) yang dipanggil dengan Sang Budha. Dia seorang pangeran dari seorang raja yang bernama sudddhodana dan istrinya ratu mahamaya. Ketika kelahirannya, ada beberapa keanehan bagi sang Buddha tersebut yaitu ibunya tidak merasakan sakit saat dia lahir dan dalam kandungan 10 bulan itu menurut ibunya terasa cepat dan yang paling aneh yaitu setelah dia lahir bisa berjalan tujuh langkah, banyak juga yang meramal sosok bayi ini, ada yang berpendapat bahwa bayi ini akan menjadi seorang cakrawatin (maha raja dunia), ada pula yang meramal bayi ini menjadi Buddha. Tetapi karena sang ayah sudah mengetahui konsep budha atau orang yang tercerahkan, ayahnya kawatir jika itu terjadi kemungkinan besar tidak ada yang akan mewarisi tahta kerjaanya. Sang budha ini akan mengalami suasana yang membuat dia tenang dalam istilah Islam yaitu asketik.
Baca Juga : Filsafat Islam: Tiruan Yunani atau Pemikiran Mandiri?
Sidartaha mengalami kejenuhan dalam kehuidupannya, yang dimana semua kebutuhannya sudah tersedia, namun pada usia 29 tahun sidartha memutuskan untuk keluar dari istana untuk melihat suasana diluar, sampai akhirnya sidartha bertemu seseorang dan menanyakan beberapa hal seperti orang sakit, orang mati, penderitaan dan orang tua. Hal ini yang menjadi pertanyaan mendasar bagi Sidartha Gautama yang kemudian memutuskan untuk mejadi seorang petapa dikarenakan tujuan dari kehidupan manusia ini tidaklah selamanya bahagia dan akan menjadi seperti apa yang dia lihat. Dan untuk keluar dari situ harus melalui beberapa jalan, yang nantinya akan menjadi ajaran pokok yang dibawa sang budha.
Secara umum budha ini bukanlah tuhan ataupun dewa, dia hanya sebagai utusan yang dikirim tuhan untuk menyebarkan ajaran yang dia peroleh dari beberapa pengalaman spiritualnya. Istilah lain darBuddha yaitu bhagavat.
Selanjutnya Sang Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan kekuatannya sendiri. Dalam artian, dia mencapai pengetahuan itu tidak dengan mempelajari kitab-kitab suci atau dengan pengajaran seorang guru. Ucapan yang diutarakan Sang Budha adalah “Aku sendiri yang mendapatkan pengetahuan, akan kukatakan pengikut siapakah aku ini?Aku tidak mempunyai guru, akulah guru yang tidak ada bandingannya”.(Khairiah:2).
Dua aliran utama Buddhisme yang masih ada yang diakui secara umum oleh para ahli: Theravada (Aliran Para Sesepuh) dan Mahayana (Kendaraan Agung). Vajrayana yang pada masa selanjutnya berkembang menjadi Tantrayana (Mantrayana), suatu bentuk ajaran yang dihubungkan dengan siddha India, dapat dianggap sebagai aliran ketiga atau hanya bagian daril Mahayana.
Dalam Buddhisme Theravada, tujuan utamanya adalah pencapaian kebahagiaan tertinggi Nibbana/nirwana, yang dicapai dengan mempraktikkan Jalan Mulia Delapan, sehingga melepaskan diri dari apa yang dinamakan sebagai penderitaan dan kelahiran kembali atau reinkarnasi. Buddhisme Mahayana sebaliknya, mengajarkan bahwa tujuan hidup dalam agama Budha adalah mencapai kebuddhaan melalui jalan bodhisattva, suatu keadaan di mana seseorang tetap membantu makhluk lainnya mencapai pencerahan.
Kitab suci merupakan salah satu unsur penting di dalam sebuah agama. Karena darikitab suci itulah kita dapat mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan agama yang bersangkutan, seperti konsep ketuhanan, ajaran, ritual-ritual peribadatan, hukum dan peraturan, dan banyak lagi yang lainnya.
Selain sebagai unsur, kitab suci juga dapat dikatakan sebagai ‘jendela’ yang bisa digunakan untuk melihat lebih jauh sebuah agama. Banyak ahli yang dapat mengetahui dan memahami sebuah agama secara mendalam hanya dengan mengkaji kitab sucinya.Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya peran sebuah kitab suci dalam sebuah agama.
Namun kitab suci dalam agama Buddha tidak ada klaim bahwa kitab suci mereka merupakan ‘wahyu’ Tuhan, karena agama Buddha sendiri tidak secara khusus membahas dan mengajarkan konsep ketuhanan. Dalam agama Buddha hanya diajarkan bahwa semua yang terdapat dalam kitab suci mereka merupakan perkataan-perkataan dari sang Buddha Gautama yang berbentuk khotbah, keterangan, peraturan, syair, percakapan sang Buddha dengan siswanya, dan lain-lain. Sang Buddha sendiri hanya seorang manusia yang kemudian mendapatkan ‘pencerahan’, sehingga menjadi suci. Perkataan-perkataan yang dianggap suci ini kemudian dikumpulkan dan dijadikan kitab suci.
Sebegitu jauh kitab-kitab agama Buddha yang ada, baik yang tersusun sistematis, dalam bentuk asli atau terjemahan, tertulis dalam bahasa Pali, Sansekerta, Tibet dan Cina serta dalam bahasa-bahasa lain di mana agama Buddha berkembang.
Pembentukan kitab suci ini tidaklah singkat. Perkataan-perkataan tersebut tentu tidak langsung berbentuk tulisan. Karena sekitar empat abad, agama Buddha hidup dari ‘tradisi’ yang diteruskan secara lisan oleh pemimpin-pemimpin agama Buddha yang hidup pada abad-abad pertama yang kemungkinan merupakan siswa dan pengikut Sang Buddha. Kemudian dilakukanlah pengumpulan-pengumpulan tradisi yang diteruskan secara lisan tadi, seperti khotbah-khotbah, kata-kata mutiara, syair, cerita-cerita, peraturan-peraturan, dan lain-lain.Pengumpulan tersebut kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang dikenal sebagai ‘pitaka’, yang secara bahasa berarti ‘keranjang’.
Setiap aliran Buddha berpegang pada Tripitaka sebagai referensi utama karena di dalamnya tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama. Bisa di bilang ini sebagai Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali/Magadhi Kuno, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai “pitaka” atau “keranjang”) yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tripitaka (Pali).





