LOGO STFALFARABI

Benarkah, Ulama Indonesia yang Menjadikan Umat Islam Terbelakang?

Oleh: M. Chadil Wijdan

Faktor yang memicu terjadinya kemunduran atau stagnasi dari suatu peradaban adalah karena ke-Goblokan seorang pemimpin. Sudah terlampau jauh, Negara ini dipimpin oleh para demagog, pseudo-ulama, gus-gusan, tucrit (tukang-cerita) dan bahkan presiden beserta antek-antek solonya yang bobrok itu. Sekalipun saya tidak akan membahasa antek-antek itu. Dari berbagai tataran sosial—yang paling tinggi, bangsawan, aristokrat sampai masyarakat proletar—telah dininabobokan oleh mereka (pemimpin) yang defisit akal sehat, yang oleh salah seorang Filsuf Islam kontemporer dari Maroko, Muhammad Abed al-Jabiri, dikatakan sebagai Nalar yang terbelenggu oleh Bayani (eksplanasi) maupun Irfani (intuisi atau mistisisme). Sehingga enggan untuk menerima nalar Burhani atau daya rasional.

Baca Juga : Filsafat Islam: Tiruan Yunani atau Pemikiran Mandiri?

Ketakseimbangan ini bukan sekadar masalah moralitas individu, melainkan sebuah kiamat epistemologis yang sistemik. Para pseudo-ulama dan “tucrit” yang menjamur di mimbar-mimbar hingga algoritma media sosial telah mengubah agama menjadi komoditas dongeng yang meninabobokan. Mereka adalah agen utama pelestari Nalar Bayani yang korup; nalar yang hanya mampu memamah biak teks-teks abad pertengahan tanpa keberanian melakukan kontekstualisasi. Di tangan mereka, kebenaran telah dianggap final seribu tahun lalu, sehingga umat hari ini dipaksa hidup seperti mayat yang berjalan mundur—memunggungi masa depan demi romantisme masa lalu yang sering kali palsu dan ahistoris.

Lebih parah lagi, masyarakat kita disuntik oleh dosis tinggi Nalar Irfani yang eksploitatif. Lewat narasi “karomah” yang dibuat-buat, klaim pertemuan gaib yang dipolitisasi, hingga kultus nasab yang dianggap tak boleh digugat, para pemimpin agama gadungan ini membangun tembok tebal yang menghalangi umat dari realitas objektif. Ini adalah bentuk penindasan intelektual yang nyata. Ketika umat menghadapi kemiskinan struktural atau ketidakadilan hukum, para demagog ini justru menyodorkan solusi mistis dan kepasrahan buta sebagai pelarian dengan dalih atas nama agama. Mereka membunuh daya kritis dan menggantinya dengan ketaatan feodal yang irasional. Inilah yang oleh Al-Jabiri disebut sebagai “beban tradisi” yang menenggelamkan akal dalam samudera intuisi yang gelap dan tidak terukur. Lantas bagaimana untuk memperbaiki keterlanjuran sistem yang dibangun sedemikian rupa itu?

Nah,,,Tak dapat dipungkiri, untuk membinasakan wabah dominasi para “gus-gusan” yang defisit akal lan cuti nalar ini, tak lain adalah menata kelola kembali Nalar Burhani. Serta menuntut bukti (demonstration) dan logika ilmiah di atas klaim-klaim emosional yang manipulatif itu hal yang wajib bagi setiap peradaban, khususnya generasi stoberi sekarang ini. Sebuah peradaban—lebih-lebih agama Islam di Indonesia—tidak akan pernah bangkit selama tolok ukur kebenaran dilihat dari seberapa panjang jenggot, fasih lidah bersilat dongeng, atau seberapa “wow” nasab seseorang. Terus tipe ulama yang bagaimana prof? Saya kira islam di sini butuh ulama yang tidak alergi pada sains, yang mampu membedah struktur sosiologis dengan pisau analisis yang tajam, dan yang berani menempatkan rasionalitas sebagai pijakan dalam beragama. Sebab, parameter keberimanan seseorang itu dilihat dari seberapa mampu ia mendayagunakan rasionya.

Lihat Juga : Pentingnya Mengetahui Logical Fallacy Dalam Kehidupan Sehari Hari

Oleh karena itu, sudah saatnya dimana kita harus berhenti menjadi bangsa yang menyembah simbol dan memuja kebodohan yang dibungkus jubah kesalehan. Islam di Indonesia harus dibersihkan dari “sampah-sampah” intelektual yang diproduksi oleh mereka yang mencari makan di atas ketidaktahuan umat. Sebagai pamungkas, mengutip semangat dekonstruksi Al-Jabiri: Akal harus mampu mengkritik dirinya sendiri sebelum ia mampu mengubah dunianya. Jika para pemimpin dan ulama hari ini masih saja menjual jualan yang sama—bayani yang kaku dan irfani yang halusinatif—maka jangan heran jika Islam hanya akan menjadi fosil sejarah yang eksotis namun tidak berdaya di tengah derasnya arus kemajuan peradaban dunia.

“Sampai kapan kita akan membiarkan iman kita dilokomotifi oleh dongeng dan otoritas tanpa nalar, sementara di luar sana sedang membedah rahasia semesta dengan daya rasionalitas?”

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman