LOGO STFALFARABI

Nalar Bayani: Re-interpretasi Teks dalam Formasi Nalar Arab

Oleh: Ilham Alim

Nasr Hamid Abu Zaid, dalam bukunya, tekstualitas al-Quran, berpendapat bahwa peradaban Arab Adalah peradaban Nash atau peradaban teks, dalam artian bahwasanya banyak sekali daripada diskursus keilmuan islam yang pada mulanya diproduksi dari nash. Kemudian kepentingan ilmu-ilmu ini adalah dalam rangka meninterpretasikan nash, baik secara alami, sebagaimana yang dilakukan oleh para sastrawan, atau para periwayat hadits, periwayat al-Quran di era-era awal Islam, maupun nantinya, di kemudian waktu akan diteorisasi oleh para ulama di berbagia disipi ilmu, Sepeti para mufassirin, para muhadditsin, para fuqoha, para usuliyyin, para mutakallimin, dan lain-lainya.

Baca Juga : Upaya Pembebasan dari Terbelenggunya Nalar Arab

Dari sinilah, Aljabiri, berpendapat bahwasanya nalar Islam atau nalar Arab di era awalnya, merupakan nalar interpretatif. Kemudia olehnya diistilahkan dengan Al-Aql al-Bayani. Inilah yang ditempatkan oleh Aljabiri sebagai peletak perpertama nalar Arab dalam trilologi nalar Arabnya. Terdapat tiga nalar di sana, yakni Al-Agi al-Bayani (nalar, interpretatif), Al-Agl al-Burhoni (nalar demonstratif), dan yang terakhir Al-Agl ol-Irfan (nalar intuitif). Namun dalam kesempatan ini, yang akan kita bahas hanya Al-Aql al-Bayāni (nalar interpretatif).

Kemudian setelah lebih lanjut, kita akan mendapati bahwasanya dalam filsafat Kantian disebutkan bahwa bahasa akan menghasilkan pemikiran, Dalam arti, sebuah kalimat tidak hanya sekedar himpunan kata yang tersusun secara sintaksis, retoris, dan linguis. Tapi daripada itu. Jadi kalimat inilah yang kedepannya dapat menggerakkan nalar dan paradigma umat di masa mendatang.

Dalam kontekst, filsafat Arab-Islam atau diskursus keilmun Islam-Arab secara lebih umum, kita akan mendapati bahwasanya nash atau teks Arab disusun dengan bahasa Arab. Dalam pembacaannya Taha Abderrahmane, seharusnya, setiap bahasa, apapun, itu, bisa menghasilkan filsafat sendiri, yang berbeda dengan filsafat-filsafat di berbagi belahan dunia. Khususnya dalam kontekst filsafat Arab-islam atau diskursus keilmuan Arab-Islam, seharusnya, bisak independent.

Kenapa bisa independent? Karena berangkat dari adanya nash dari kebudayaan mereka sendiri yang mana nash tersebut disusun dengan bahasa mereka diri. Bukan hanya sekedar penyusunannya secara linguistik, tapis secara sintaksis dan retoris. Sehingga, gagasan yang dihasilkan menjadi gagasan yang utuh, gagasan yang menghimpun antara logika dan ucapan.

Lihat Juga : Benarkah, Ulama Indonesia yang Menjadikan Umat Islam Terbelakang?

Oleh karena itu, jika kita melihat contoh yang seringkali ditampilkan dalam diskursus logika Arab, kita akan mendapatkan definisi manusia sebagai: Al-Insān hayawān an-Nāthiq (manusia merupakkan hewan yang berucap). Secara redaksional, maksudnya manusia yang berbahasa. Tapi sesunguhnya lebih dari pada itu. Bukan hanya sekedar berbahasa, tetapi bahasanya merupakan simbol intelektualitas atau simbol pernikiran yang mana pemikiran tersebut akan ia tranferkan melalui bahasa yang akan dia gunakan sebagai pendekatan dalam mengalihkan pemikiran tersebut untuk disebakan pada khalayak ramai.

Jadi intiya, bahwasanya Al-Aql al-Bayani (nalar interpretatif) ini, alih-alih merupakan nalar yang kerap kali dikambinghitamkan sebagai sumber stagnasi rasionalitas, justru merupakan sumber epistemologis pertama dalam menghasilkan gagasan Arab-Islam. Untuk pemahaman yang lebih komprehensif, diskursus ini dapat ditelusuri lebih lanjut dalam karya monumental Al-Jabiri, Takwin al-Aql al-‘Arabi [Formasi Nalar Arab).

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman