oleh: M. Chadil Wijdan
Salah satu alternatif untuk mencapai peradaban yang luhur adalah melalui aktivitas ngecor, nguli, dan nukang. Tiga “N” ini mungkin sudah akrab di telinga para arsitek, kontraktor, pemborong, bahkan santri yang tinggal di lingkungan pesantren. Lantas, muncul sebuah pertanyaan: apakah santri itu dituntut untuk nguli? Jawabannya: ya! Namun, dalam dunia pesantren, istilah nguli, ngecor, dan nukang sering disebut dengan satu kata: pengabdian.
Santri yang hendak boyong (pulang) dari pesantren biasanya diwajibkan untuk mengabdi terlebih dahulu. Bentuk pengabdian ini bisa berupa nguli, ngecor, nukang, atau bahkan mengajar ngaji. Lalu bagaimana dengan santri tetap? Sama saja, mereka pun diwajibkan melakukan pengabdian sebagaimana santri yang akan boyong.
Mungkin muncul pertanyaan lain: mengapa harus nguli? Ngecor? Nukang? Mengapa tidak hanya fokus mengaji? Bukankah tujuan utama santri adalah menuntut ilmu, bukan menjadi tukang? Baik, sebelum Anda melontarkan sederet pertanyaan tersebut, mari kita selami bersama makna terdalam dari “peradaban ngecor”.
Tepat pada tanggal 1 Juni 2025, akan dilaksanakan pengecoran lantai 3 Masjid Baitul Hikmah di Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen. Belakangan ini, para Luhurian (sebutan akrab untuk santri Pesantren Luhur), baik yang baru maupun yang lama, ikut serta membantu pembangunan masjid dengan meluangkan tenaga mereka.
Bahkan sebelum proses pengecoran dimulai, para santri sudah mendapat tugas dari Pak Sul (tukang sekaligus mandor) untuk memotong bambu di Ampelgading, Malang. Di daerah tersebut, beberapa teman kami — Ilham, Ishaq, dan Romi — pernah menimba ilmu dan mengabdi di Pondok Nur Al-Tauhid sebelum akhirnya melanjutkan ke Pesantren Luhur.
Luhurian pun berangkat ke sana, sementara Pak Sul menyiapkan rencana pengecoran. Pak Qodir (pengasuh Pondok Nur Al-Tauhid) menghubungi Pak Dhofir (pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Luhur Baitul Hikmah) untuk menyampaikan bahwa pengecoran sudah bisa dimulai karena bambu sudah siap ditebang.
Setelah proses pemotongan selesai, semua bahan dan persiapan pengecoran tersusun dengan rapi. Lalu, di manakah letak makna terdalam dari peradaban ngecor ini?
Silakan sruput kopi Anda, nyalakan sebatang rokok, dan hiruplah dalam-dalam hingga asapnya merefleksikan pikiran. Sudah? Mari kita mulai…
Secara etimologis, kata peradaban berasal dari akar kata adab dalam bahasa Arab, yang berarti sopan santun, budi pekerti luhur, dan tata krama. Namun, jika merujuk pada Muqaddimah karya Ibnu Khaldun — seorang sosiolog Muslim dari Andalusia — peradaban (umran) merupakan hasil dari interaksi kompleks antara kekuasaan, ekonomi, dan moralitas, yang saling memengaruhi dan menentukan kelangsungan hidup sebuah masyarakat.
Ibnu Khaldun memandang peradaban sebagai sebuah social corporate actor, yaitu entitas sosial yang dijalankan oleh struktur bernama “perusahaan”. Dalam konteks ini, pesantren hadir sebagai struktur yang mengantarkan santri menuju sistem bernama peradaban. Dengan kata lain, menjadi santri yang berperadaban.
Bagaimana hubungan dengan ngecor?
Triple “N” (nguli, ngecor, nukang) merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pesantren. Seorang santri tidak dapat disebut “santri” apabila belum menjalani pengabdian. Karena “santri” itu bagian dari “pesantren”, dan pesantren merupakan wadah lahirnya peradaban. Maka, peradaban ngecor adalah entitas yang tumbuh dalam diri santri untuk kemudian menjadikannya insan yang berperadaban.
Lalu, mengapa santri harus menjadi insan yang berperadaban? Kembali, sruputlah kopimu dan resapilah makna ini: hanya di tempat sakral bernama pondoklah seseorang dapat mengubah pola pikir, pola sikap, dan membangun karakter. Maka dari itu, saran saya: Mondoklah di Pesantren Luhur Baitul Hikmah (Titik).





