LOGO STFALFARABI

Filosofi Santri

Salah satu kekhasan Islam Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain adalah kaum santri, kaum sarungan. Hal ini bukan semata karena tiap tahun lebih dari empat juta anak belajar di Pesantren dan lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyah yang rerata menjadi bagian dari Pesantren, tetapi lantaran santri adalah identitas yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Baca Juga : Islam Dan Selangkangan Politik

Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan “non formal”, tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading.

Meraka adalah kaum terpelajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apapun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman. Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa.

Dalam filsafat Jawa disebutkan bahwa: urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat). Falsafah ini santri banget!

Dari 80.000 lebih desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian, peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, bahkan sektor paling vital, yakni menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI.

Baca Juga : Dharma

Bukankah kebanyakan kaum terpelajar non-santri (terutama para politisi) hanya berwacana, beretorika dan membual ke sana-kemari soal kedaulatan, padahal mereka merampok dan menjual Tanah Airnya sendiri?

Santri tidak perlu diajak bicara perihal wawasan kebangsaan dan kerukunan, mengapa? Karena, ketika wawasan itu baru diseminarkan di perguruan tinggi dan masyarakat perkotaan, kaum santri telah menerapkannya selama berabad-abad. Mau tahu buktinya? Gus Dur adalah produk Pesantren yang paling otentik.

Kurikulum Pesantren mengalahkan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu Gus Dur hendak kuliah di sana, ternyata semua mata kuliah di fakultas Dirasah Islamiyah sudah diajarkan di Pesantren klasik di Indonesia.

Nah, peryataan lucunya kemudian, kalau kurikulum Pesantren klasik saja sudah setara universitas Al-Azhar, mengapa Negara tidak mau adopsi kurikulum itu?

Soal kerukunan umat beragama dan multikulturalisme? Kaum santri tidak ada yang intoleran dan radikal, karena Pesantren klasik khususnya lebih menomorsatukan moral(tarbiyyah) dari pada sisi intelektual (ta’lim).

Soal Narkoba dan terorisme? Pesantren malah sejak awal paling anti merusak generasi muda dengan dalih apapun, maka, penyuluhan Narkoba di Pesantren sangat tidak berguna. Soal keamanan dan keutuhan bangsa? Pesantren adalah benteng NKRI yang paling kokoh sejak pra kemerdekaan, masa revolusi bahkan hingga kini dan nanti.

Soal kemandirian dan survivalitas hidup? Kaum sarungan paling tangguh dan pantang mengeluh. Bahkan, kaum santri nyaris tidak pernah merepotkan Negara dan memang kaum santri dipandang sebelah mata oleh Negara. Yang ada malah Negara selalu merepotkan santri, bahkan sejak perjuangan pra kemerdekaan hingga kini. Meski Negara tak pernah hadir, Santri tetap membela Sabang-Merauke ini sampai jasad ke liang lahad.

Tanpa Negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata dan doa. Tidak ada yang lebih berani menyabung nyawa melawan kekejaman penjajah selain santri.

Bahkan, setelah kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan Pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prisnip dan falsafah hidup mereka. Apa itu?

Mungkin suka Baca : Doakan Kerjamu, Kerjakan Doamu

Santri—adaptasi dari tradisi cantrik Hindu“shastri” dalam bahasa Sansekerta adalah orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an atau Pesantren—adalah gabungan dari huruf Arab Sin, Nun, Ta’, Ra’ dan Ya’. Apakah makna-makna di balik huruf-huruf keramat itu?

Sin artinya Salik ilal-Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Santri meyakini bahwa sejarah manusia bukan di bumi, kerajaan manusia bukan di dunia, tapi di akhirat. Sehingga, apapun yang ditempuh dan diperjuangkan santri, semata demi kebahagian dan kejayaan di akhirat kelak.

Tidak penting popularitas dan menjadi pusat perhatian di bumi, yang penting di langit punya bendera. Oleh karena itu, santri lebih memilih jalan sunyi dari pada publisitas.

Maka, filosofi pertama dari kaum sarungan adalah jelas orientasi hidupnya, tidak zigzag dan miring. Bukankah penyakit dan petaka manusia modern adalah menjalani hidup yang tak jelas tujuan dan orientasinya.

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman