LOGO STFALFARABI

Roadshow Bedah Buku FILSAFAT UNTUK PEMALAS ke-13 dan 14

Sedari kecil kita mendengar ujar-ujar klasik: “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Itu artinya mengindari masalah (sebisa mungkin) jauh lebih mangkus dan sangkil daripada menghadapinya setelah masalah itu terjadi. Sepupu jauh saya, Einstein, pernah mengingatkan kita bahwa orang cerdas memecahkan masalah, tetapi orang bijak menghindarinya.
 
Kabar baiknya, kebijaksanaan berada satu level di atas kecerdasan. Tak satupun para bijak bestari kecuali mereka adalah orang-orang yang cerdas. Para filsuf dan ilmuwan (sayangnya hampir semuanya lelaki) tadinya ingin mengubah dunia, tapi—sebagaimana disebutkan dalam Filsafat untuk Pemalas—alih-alih mengubah dunia, bahkan mengubah diri sendiri saja teramat sulit. Pada akhirnya, sungguhpun mereka bisa mengubah dunia (mulai sekarang jangan katakan “merubah”, karena merubah artinya menjadi binatang rubah, lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia), adapun para ilmuwan itu sanggup mengubah peradaban, tetap saja kelak perempuan akan mengubah lelaki, bahkan dengan cara-cara konyol dan tidak ilmiah. Jadi, perempuan alias mak-mak jauh lebih filsuf dari lelaki (filsuf) manapun: lelaki mengubah dunia, perempuan mengubah lelaki. Pendek kata, remote control perubahan ada pada wanita. Dan, ini fakta.
 
Nah, apa perbedaan cerdas dan bijak? Kecerdasan adalah kemampuan teoritis dan taktis, tapi kebijaksanaan adalah kemampuan taktis dan praktis sekaligus—elmune kanthi laku. Masalahnya, mencegah dan menghindari masalah itu tidak keren (tentu saja ini versi Hollywood, media sosial dan buku-buku sejarah bikinan penjajah). Misalnya, sembari menulis catatan sederhana ini saya membayangkan satu adegan krusial dalam dua film. Pada film MALIN KUNDANG, karena cuaca buruk kapten kapal menunda pelayaran sebelum terlalu jauh membelah samudera dan memilih untuk kembali ke dermaga demi menghindari terjangan ombak, prahara dan badai semata agar semua penumpang selamat dan tidak ada kerugian materi.
 
Inilah nahkoda bijaksana. Sementara dalam film MALING ANGGARAN, sang nahkoda kapal Trias Politika secara heroik memilih tetap berlayar dalam cuaca buruk dan tegar menghadapi prahara serta menerjang badai, banyak korban meninggal serta tidak sedikit kerugian materi. Namun dengan kecerdikan dan kerjasama tim, bahtera berhasil selamat dan sebagian besar penumpang tertolong nyawanya. Inilah nahkoda cerdas.
Kira-kira film mana yang akan Anda beli tiketnya? Tentu saja film MALING ANGGARAN. Tetapi, situasi manakah yang lebih ingin Anda hadapi jika Anda seorang penumpang dalam kapal sungguhan di kehidupan nyata? Nah, jangan lupa baca buku.
 

Artikel Lainnya

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App STF Al-Farabi

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman