oleh: Ach Dhofir Zuhry
“Boleh saja Anda tidak suka filsafat, memang tidak semua orang punya selera yang baik.”
Duda keren (duren) banyak, jomblo keren (joker) tak terhitung, tapi bagaimana menjadi pemalas keren? Berfilsafat. Apa sebab? Terdapat dua jenis kegagalan, berpikir tanpa bertindak atau sebaliknya bertindak tanpa berpikir. Oleh karena itu, dosa besar intelektual adalah enggan mengungkap kebenaran karena tergiur oleh iming-iming tertentu.
Namun demikian, apa yang Anda pikirkan tidak bisa menghasilkan sebesar apa yang Anda lakukan. Tepat sekali, filsafat adalah kesinambungan pikir-tindak. Ilmu yang amaliah, amal yang ilmiah. Bagaimanapun, habitat filsafat bukan hanya di buku dan bangku, tapi lebih di kehidupan nyata. Dengan buku-bukuan ini, cara-cara berfilsafat yang sudah kuno dan kedaluwarsa kita tinggalkan saja, filsafat yang serius dan bikin cepat tua kita jauhi saja. Memangnya maksiat, kok dijauhi segala?
Teramat banyak orang menghabiskan waktu (yang adalah uang) untuk pergi memancing seumur hidupnya, padahal bukan ikan yang mereka cari tapi kepuasan, dan pada gilirannya kebanggaan, sebagian juga untuk konten kanal-kanal video berbagi. Dengan lain kata, sudah terlalu banyak orang belajar filsafat, tetapi teramat sedikit yang berfilsafat. Dasar pemalas. Lha, terus ngapain di kampus berlama-lama? Tanya mahasiswa dong, jangan ke saya!
Saya membayangkan (meski agak malas) betapa di dunia yang praktis serba daring dan internet-minded, masih adakah celah kecil untuk menjadi manusia (syukur-syukur) seutuhnya? Bagaimana kalau yang kita anggap waras ternyata gila, sebaliknya yang kita stempel gila faktanya waras? Bagaimana jika seluruh mayapada, setiap jengkal dunia maya ternyata adalah kegilaan itu sendiri dan kita sedang tinggal di rumah sakit jiwa raksasa bernama planet bumi? Bagaimana kalau titik kegilaan paling akut dan nyaris tak bisa sembuh adalah Jakarta.
Perlu diketahui (dan diujicoba) bahwa para filsuf dari zaman kuno sampai kini senantiasa memiliki dua visi besar dalam menjangkarkan teori dan ajarannya, yakni rancang-bangun kebenaran di satu sisi dan rancang-bangun kebahagiaan di sisi lain, bahkan dalam tradisi filsafat Timur terdapat jalan keselamatan. Pada gilirannya, yang pertama membentuk pola pikir dan disiplin menalar sementara yang kedua membias terhadap pola sikap dan santuy menjalani hidup.
Memang, sebagian orang mengejar kebahagiaan tetapi sebagian lagi menciptakannya. Oleh karenanya, personal healing yang paling healing adalah berfilsafat, sekurang-kurangnya mulai dari diri sendiri, dari yang remeh-temeh dan mulai dari sekarang.
Senasib dengan saudara tuanya bernama agama, banyak yang secara jumawa beranggapan—bahkan meyakini—bahwa dengan kedigdayaan saintek, filsafat di ambang kematian, agama memasuki senjakala, dan tak lama lagi punah. Ternyata dua-duanya sehat wal afiat hingga kini, malah makin digandrungi, hadir di ruang maya, bahkan tak jarang mahasiswa-mahasiswa veteran pacaran dengan ibu kosnya (sebagaimana Bung Karno dulu) dengan modus berfilsafat. Ini sih jelas-jelas bukan filsafat, tapi fil-syahwat, huss.
Tentu, bagi pembelajar filsafat, tak ada yang lebih membahagiakan selain berpikir, tak habis tanya dan mencari makna. Berpikir itu kudus, sakral dan adiluhung. Siapapun yang menuduh filsafat tidak berguna, sama dengan mengatakan bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan. Itu kalau uangnya sedikit, Bun. Tapi kalau uang korupsi dan nyunat anggaran negara yang berjibun-jibun banyaknya pasti bisa membeli kebahagiaan, Dul.
Padahal semua aspek kepakaran, ranah keterampilan dan profesi, barang dan jasa, pendidikan, seni-budaya, politik, ekonomi dan ranah keagamaan juga berorientasi ke sana, ke cuan. Adakah yang tak bisa dijual di pasar raya kapitalisme? Selagi masih ada makelar-pembeli, pialang-kurator, pengasong-demagog, babi ngepet digital dan perselingkuhan kapitalisme (religius) dengan hasrat dan relasi kuasa, selama itu pula yang dipertuan agung uang akan tetap merajalela. Hidup cuan!
Views: 281





