Disampaikan oleh: Gus Ach. Dhofir Zuhry (Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah)
Al-Fatihah. Bismillahirrahmanirrahim.
Pembahasan kali ini masih melanjutkan bab sebelumnya, sebelum beralih ke pasal lain. Tema utamanya berkisar pada syafaqah (saling mengasihi) dan nasihah (saling menasihati).
Al-Qur’an menegaskan dalam tawâshau bil-haq dan tawâshau bis-shabr—saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Wasiat biasanya disampaikan dengan penuh kelembutan, bukan dengan amarah. Oleh karena itu, mengartikan tausiyah sekadar sebagai “ceramah marah-marah” adalah keliru. Tausiyah sejatinya adalah wasiat, nasihat yang penuh kasih.
Menjauhi Keburukan dan Menambah Kebaikan
Ditegaskan bahwa memusuhi orang lain adalah sia-sia, bahkan kontraproduktif. Islam justru mengajarkan untuk berbuat ihsan, termasuk kepada musuh. Kebaikan harus terus diperkuat, sedangkan keburukan mesti dijauhi.
Manusia bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, tetapi juga atas apa yang ia abaikan. Sabda Nabi: “Kullukum râ‘in wa kullukum mas’ûlun ‘an ra‘iyyatihi.” Setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
Tanggung Jawab pada Diri Sendiri
Hubungan terpenting seorang manusia adalah dengan dirinya sendiri. Seseorang bisa sukses meskipun orang lain tidak percaya kepadanya, asalkan ia percaya pada dirinya. Namun ia tidak akan pernah sukses bila tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri.
Manusia disebut achiever—peraih, pencapai. Karena itu setiap orang selalu memiliki target: menyelesaikan pendidikan, membangun rumah tangga, hingga merancang masa depan.
Diplomasi dan Perang di Zaman Nabi
Islam mengajarkan agar keburukan tidak dibalas dengan keburukan. Bahkan jika ditipu atau diperdaya, jangan dibalas dengan cara yang sama. Umpatan kebencian (hate speech) yang marak di media sosial sebaiknya tidak dilayani, karena hanya memperpanjang kebodohan.
Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, tercatat ada 33 kali peperangan. Namun sebagian besar justru diselesaikan dengan diplomasi: 22 kali berhasil damai di meja perundingan, hanya sekitar sepertiganya yang benar-benar pecah perang. Nabi adalah seorang diplomat dan negosiator ulung.
Pentingnya Dokumentasi
Kitab Ta’līm al-Muta‘allim menekankan pentingnya istifâdah—menimba ilmu. Ulama klasik mengajarkan bahwa siapa yang hanya mengandalkan hafalan akan mudah lupa, tetapi siapa yang menulis akan meninggalkan warisan abadi.
Ungkapan Latin menyebut: Scripta manent—tulisan itu abadi. Karena itu, santri dituntut membiasakan mencatat, menulis, dan mendokumentasikan ilmu. Tanpa dokumentasi, pengetahuan sulit berkembang.
Belajar dari Prasasti dan Sejarah
Leluhur Nusantara telah meninggalkan tradisi menulis melalui prasasti, misalnya Prasasti Yupa (Kutai, 475 M). Hal itu menjadi bukti bahwa bangsa ini berperadaban tinggi jauh sebelum Islam datang.
Namun ironisnya, untuk mempelajari sejarah bangsa sendiri, sering kali kita harus pergi ke Belanda karena arsip-arsip kita tersimpan di sana. Inilah tanda lemahnya tradisi dokumentasi di negeri ini.
Penutup
Pesan utama Gus Ach. Dhofir Zuhry dalam kajian Ta’līm al-Muta‘allim ini adalah: belajar, mencatat, dan mendokumentasikan. Dengan itulah ilmu bisa diwariskan lintas generasi.
Al-Fatihah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





